Matahari belum juga terbit ketika saya mesti memegang erat sapu lidi berukuran besar di sepanjang Jalan Pemuda, Semarang. Udara pagi yang menusuk tulang dan debu jalanan yang beterbangan sudah menjadi makanan sehari-hari saya selama hampir lima tahun. Nama saya Riki. Bagi sebagian orang yang lalu